FIN: “Rutte, mintalah pengakuan Bersiap dari Indonesia”

Den Haag (27 Februari 2020) – Pemerintah Belanda harus menekan untuk pengakuan dan maaf dalam besuknya ke Indonesia yang akan datang dari pemerintah Indonesia buat kejahatan-kejahatan yang telah dilalui kepada orang Belanda (Indo) yang tak berbahaya pada waktu dekolonisasi. Untuk itu Federatie Indische Nederlanders (FIN, Fedarisi Belanda Indo) memanggil menteri-presiden Mark Rutte dalam surat umum.

Sampai sekarang kejahatan-kejahatan Indonesia tidak diomongkan, meskipun kejahatan-kejahatan Belanda dugaan dari periode sama diomongkan secara luas dalam diskusi umum. Lalu menteri Belanda dari Urusan Luar Negeri Ben Bot mengatakan di tahun 2005 bahwa Belanda ‘berdiri di sisi sejarah yang salah’ dan setelah itu Belanda minta maaf kepada Indonesia di tahun 2013 untuk eksekusi konstitusional oleh tentara Belanda pada tahun 1945 sampai 1949. Sejak transfer kedaulatan tekanan adalah di apakah salahnya Belanda. Sudah bertahun-tahun inilah sumber gangguan antara orang Belanda yang ada hubungan dengan bekas Hindia Belanda, grup salah satu yang pada waktu Bersiap sangat menderita terror Indonesia. Rasa salah paham adalah begitu besar, terutama di orang-orang korban yang masih hidup dan ia punya keluarga.

‘Bersiap’, itu adalah kata bahasa Melayu untuk ‘siaplah’ atau ‘berikan perhatian’ yang mengacu pada periode paling kasar yang mengikuti kapitulasi Jepang. Selama Bersiap itu berapa puluh ribu orang Belanda (Indo) di menganiaya, di perkosa dan dibunuh oleh orang Indonesia karena ia punya etnisitas Belanda/Eropa. Jumlah persisnya korban orang Belanda yang terjadi di Bersiap masih belum tidak jelas sampai hari ini. Perkiraan jumlahnya adalah antara 15.000 dan 30.000 kematian dan 15.000 orang yang hilang. Termasuk korban dari pertempuran rasis Bersiap juga orang Cina, Maluku dan orang-orang dari etnisitas minoritas lain, walaupun tidak jelas berapa orang terkorban dari grup-grup ini.

Tags: Perang Dunia IIBersiap.

NED - © Den Haag 2019-2020 - Federatie Indische Nederlanders